Latest Entries »

Banyak nash Al-quran dan Hadits bermakna umum yg ditakhsis oleh hadits lain, seperti hadits “KULLU BID’ATIN DOLALAH” yg ditakhshish oleh hadits “MAN SANNA FIL-ISLAM”.

Pada kali ini saya tidak akan menjelaskan tentang bid’ah, saya mencoba menguraikan tentang TAKHSIS dgn singkat disertai contoh alakadarnya.

Takhsis/Pengecualian Hukum

Makna Takhsis:
والتخصيص : بيان المراد باللفظ . أو بيان أن بعض مدلول اللفظ غير مراد بالحكم ، وهو جائز بدليل: خالق كل شيء [ الزمر : 62 ] ، تدمر كل شيء [الأحقاف : 25 ]

Takhsish: adalah menjelaskan makna yg dikehendaki oleh lafadz (umum).
Atau: menjelaskan bahwa sesungguhnya sebagian yg tertuju oleh lafadz tidak dikehendaki hukum.

Dalil takhsis, firman Allah:
خالق كل شيء [ الزمر : 62 ]
“Allah Yang Menciptakan segala sesuatu”
Dari ayat ini ditakhsis: Sifat2 Allah dan Al-Quran, karna sifat2 Allah bukan makhluk, Al-Quran juga bukan makhluk Allah tapi Kalamullah.

Dalil takhsis yg lain yaitu firman Allah:
تدمر كل شيء ]الأحقاف[: 25
"Malaikat menghancurkan segala sesuatu (kaum Nabi Hud as)".

Dari ayat ini ditakhsis perkara yg tidak turut dihancurkan, seperti bumi, langit dll.

Dalam kajian ushul fiqih MUKHASHISHAT (alat2 pentakhsish) ada sembilan.

1. Al-Hiss (panca indra), seperti ditakhsisnya bumi dan langit pada ayat: تدمر كل شيء
bumi dan langit ditakhsis (tidak turut dihancurkan) karna secara hissi terlihat.

2. Akal, akal digunakan untuk mentakhsis perkara yg tdk dapat difahami dari ke-umuman lafadz.
Seperti pada ayat:
ولله على الناس حج البيت [آل عمران 97 ]
“Diwajibkan bagi manusia berhaji ke Baitullah”

Keumuman lafadzالناس menuduhkan seluruh manusia tertuju oleh hukum kewajiban haji ke Baitullah, tapi oleh akal ditakhsis anak kecil dan orang gila tidak diwajibkan, karna bukan mukallaf.

3. Ijma’ qoth’iyyah.
Seperti, dari dalil2 yg ada dimaklumi kewajiban harus jelasnya nilai harga segala sesuatu baik jual-beli atau sewa. Tapi ijma’ manusia mentakhsis harga/ongkos sewa naik perahu dan masuk wc (zaman dahulu), karna pada masa itu ongkos naik perahu dan masuk wc tidak dipatok.

4. Nash, baik nash qu’ran ditakhsis oleh nash hadits, atau hadits oleh hadits lain.
Seperti ditakhsisnya ke-umuman ayat:
والسارق والسارقة [المائدة : 38 ]
“Pencuri harus dihukum potong tangan”.
Keumuman ayat ini menjelaskan setiap pencuri diberi hukum potong tangan, baik pencurian dlm jumlah besar atau kecil.
Tapi ayat ini ditakhsis oleh nash hadits:
لا قطع إلا في ربع دينار
“Tiada hukum potong tangan kecuali dalam seperempat dinar”.
Hadits ini mentakhsis pencurian dibawah seperempat dinar dari hukum potong tangan.

5. Mafhum dari nash, karna mafhum juga merupakan dalil sama seperti nash.
Seperti ditakhsisnya ke-umuman hadits:
في أربعين شاة شاة
“Dalam empat puluh ekor kambing wajib dikeluarkan (zakat) seekor kambing”.
Hadits ini ditakhsis oleh mafhum hadits:
في سائمة الغنم الزكاة
“Dalam kambing yg merumput (digembalakan) diwajibkan zakat”.
Mafhum dari hadist ini: “kambing yg tdk digembalakan tidak wajib zakat”, mafhum ini mentakhsis (mengeluarkan) kewajiban zakat dari 40 ekor kambing yg tidak digembalakan.

6. Pekerjaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Seperti ditakhsisnya ayat:
ولا تقربوهن حتى يطهرن [البقرة : 222 ]
“Janganlah kalian mendekati wanita yg sedang haid sehingga mereka suci”.
Ayat ini ditakhsis dgn pekerjaan Nabi ber-mubasyarah dgn A’isyah ra yg sdg haid pada selain farj:
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ، يأمرني فأتزر ، ثم يباشرني وأنا حائض
“Rosulullah shallallahu alaihi wasallam memerintah aku, maka aku memakai sarung, kemudian beliau menyentuhku, dan aku sedang haid”.
Keumuman ayat diatas menjelaskan tidak boleh ‘bermain’ dgn wanita haid meski sekedar memeluk atau mencium. Tapi ayat itu ditakhsis (dijelaskan makna yg dikehendakinya) oleh pekerjaan Nabi, bahwa yg dilarang adalah berhubungan intim dgn wanita haid, sedangkan selain itu dibolehkan.

7. Taqrir Nabi shallallahu alaihi wasallam pada yang menyelisihi dalil umum, disertai kuasanya Nabi untuk mencegahnya. Karna itu merupakan shorih idzin dari Nabi, karna dengan ke-makshumannya tidak mungkin Nabi membiarkannya (jika itu dilarang).

8. Ucapan Sahabat jika dapat dijadikan hujjah seperti qiyas, bahkan lebih utama.

9. Qiyas nash khos didahulukan atas keumuman nash yg lain.
Seperti hukum haram bir/wiski (minuman yg memabukan) diqiyaskan pada khamr karna sama2 memabukan, ini merupakan qiyas pada nash khusus yg menyatakan haramnya khamr.
Qiyash nash khusus ini mentakhsis keumuman ayat:
قل لا أجد في ما أوحي إلي محرما على طاعم يطعمه إلا أن يكون ميتة أو دما مسفوحا أو لحم خنزير [الأنعام : 145 ]
“Katakan (wahai Muhamad), aku tidak menemukan dari yg diwahyukan padaku, yg diharamkan pada org yg memakan yg memakannya kecuali jika itu bangkai, atau darah yg mengalir, atau daging babi”.

*Syarah Mukhtashar Ar-Raudhah (Syaikh Najmuddin Abu-Rabi’ Salim bin Sa’id At-Thusy).

Kesimpulan:
Bid’ah yang sesat dalam agama adalah perkara baru yang tidak ada dalilnya dalam agama. Sedangkan perkara baru yg ada dalilnya maka tidak termasuk bid’ah yg sesat.

Pendapat yang dinukil dari Ahlussunah Wal-Jama’ah:

قال سيدنا علي رضي الله عنه )40 هـ( كان- الله- ولا مكان، وهو الان على ما- عليه- كان اهـ. أي بلا مكان.

1. Sayyidina Ali RA (40 H): “Allah telah ada sebelum adanya tempat, dan sekarang DIA tetap pada keadaan-Nya )tanpa tempat(“.

وقال أيضا : “إن الله تعالى خلق العرش إظهارًا لقدرته لا مكانا
لذاته” أ هـ.

2. Ali RA juga berkata: “Allah menciptakan ‘arasy untuk menunjukan kekuasaan-Nya, bukan untuk tempat bagi Dzat-Nya”.

وقال أيضا من زعم أن إلهنا محدود فقد جهل الخالق المعبود” اهـ. )المحدود: ما له حجم صغيرا كان أو كبيرا(

3. Ali RA juga berkata: “Barang siapa berkata Tuhan kita mahdud )jisim yg terbatasi besar/kecil( maka ia tidak tahu Pencipta yg disembah”.

وقال الإمام زين العابدين علي بن الحسين بن علي رضي الله عنهم )94 هـ( ما نصه: أنت الله الذي لا يحويك مكان” أ هـ.

4. Imam Ali Zainal ‘Abidin bin Husain RA )94 H( berkata: “Engkaulah Tuhan yang tidak terliputi tempat”.

وقال أيضا أنت الله الذي لا تحد فتكون محدودا( اهـ.

5. Beliau juga berkata: “Engkaulah Tuhan yg tidak terbatasi”.

وقال الإمام جعفر الصادق بن محمد الباقر بن زين العابدين علي بن الحسين رضوان الله عليهم )148 هـ( مانصه : “من زعم أن الله في شىء، أو من شىء، أو على شىء فقد أشرك. إذ لو كان على شىء لكان محمولا، ولو كان في شىء لكان محصورا، ولو كان من شىءلكان محدثا- أي مخلوقا” أ هـ.

6. Imam Ja’far Shodiq bin Muhamad al-Baqir bin Zainal ‘Abidin bin Al-Husain RA )148 H( berkata: “Barang siapa menyangka bahwa Allah didalam sesuatu, atau dari sesuatu, atau diatas sesuatu maka ia musyrik. Karna jika Allah diatas sesuatu maka berarti Allah ditanggung/dipanggul, dan jika didalam sesuatu berarti Allah terbatasi, dan jika dari sesuatu berarti Allah hadits/baru )mahkluq(“.

قال الإمام أبو حنيفة النعمان بن ثابت رضي الله عنه )150 هـ( ما نصه: “والله تعالى يرى في الآخرة، ويراه المؤمنون وهم في الجنة بأعين رؤوسهم بلا تشبيه ولا كميّة، ولا يكون بينه وبين خلقه مسافة” اهـ.

7. Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit RA )150 H( berkata: “Allah dapat terlihat di akhirat, dan orang mukmin melihat-Nya, dan keadaan mereka didalam sorga, dengan mata kepala mereka tanpa tasybih dan tanpa bilangan. Dan tiada jarak antara Allah dan makhluk-Nya”.

وقال أيضا في كتابه الوصية: “ولقاء الله تعالى لأهل الجنة بلا كيف ولا تشبيه ولا جهة حق” اهـ.

8. Dalam kitab al-Washiyah beliau berkata: “Pertemuan Allah dgn ahli sorga tanpa takyif dan tasybih dan tanpa jihat adalah haq”.

وقال أيضًا : ” قلت: أرأيت لو قيل أين الله تعالى؟ فقال- أي أبو حنيفة-: يقال له كان الله تعالى ولا مكان قبل أن يخلق الخلق، وكان الله تعالى ولم يكن أين ولا خلق ولا شىء، وهو خالق كل شىء” اهـ.

9. Imam Abu Hanifah juga berkata: “Aku berkata, jika ditanyakan: “dimanakah Allah”?
Beliau berkata: maka jawabannya “Allah telah ada, dan tiada tempat sebelum Allah menciptakannya, dan Allah telah ada sebelum ada aina (dimana) dan tiada makhluk tiada sesuatu dan Dia-lah Pencipta segala sesuatu”.

وقال أيضا: “ونقر بأن الله سبحانه وتعالى على العرش استوى من غيرأن يكون له حاجة إليه واستقرار عليه،وهو حافظ العرش وغير العرش من غير احتياج، فلو كان محتاجا لما قدر على إيجاد العالم وتدبيره كالمخلوقين، ولو كان محتاجا إلى الجلوس والقرار فقبل خلق العرش أين كان الله، تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا” اهـ.

10. Imam Abu Hanifah RA juga berkata: “Kami mengaku bahwa sesungguhnya Allah SWT “istiwa” atas ‘arasy tanpa adanya kebutuhan padanya dan tanpa bertetap/tinggal diatasnya. Dan Dia-lah Yang menjaga ‘arasy, dan merobahkan ‘arasy tanpa adanya kebutuhan. Maka jika Allah butuh, maka Allah tidak akan kuasa mewujudkan alam dan mengurusnya. Dan jika Allah butuh untuk duduk dan tinggal, maka sebelum menciptakan ‘arasy dimanakah Allah?
Maha suci Allah dari hal itu dgn kesucian yang agung”.

Wallahu A’lam bishowab.

Banyak saudara seiman kita dari golongan wahabi yg mengatakan bahwa Ayah-Bunda Rosulullah berada di neraka, bahkan mereka seolah menjadikan ini “satu akidah” yang wajib di imani.

Keyakinan mereka berlandaskan pada beberapa hadits, tapi hadits yg paling kuat untuk dijadikan dalil (bagi mereka) adalah hadits yg diriwayatkan oleh Imam Muslim.

203حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا عفان حدثنا حماد بن سلمة عن ثابت عن أنس أن رجلا قال يا رسول الله أين أبي قال في النار فلما قفى دعاه فقالإن أبي وأباك في النار

“Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya:
Ya Rosulallah, dimanakah keberadaan bapak ku?
Rosulullah menjawab: “di neraka”.
Ketika laki-laki itu pergi Rosul memanggilnya dan berkata: “Bapak ku dan bapak mu di neraka”.

Tapi apakah hadits ini benar2 shahih??

Sebenarnya hadits ini tidak sendiri, masih ada beberapa perawi lain yg meriwayatkan hadits ini dgn matan/teks yg AGAK BERBEDA:

Hadits Ibnu Majah 1573
Hadits ini sama dgn hadits sohih Muslim hanya beda perawi. Dan pada teksnya terdapat perbedaan yg menonjol.
Dalam hadits ini tdk ada kalimat “Sesungguhnya bapak ku dan bapak mu dineraka”.

حدثنا محمد بن إسماعيل بن البختري الواسطي حدثنا يزيد بن هارون عن إبراهيم بن سعد الزهري عن سالم عن أبيه قال
جاء أعرابي الى النبي صلى الله عليه وسل فقال يا رسول الله إن أبي كان يصل الرحم وكان وكان فأين هو؟ قال في النار قال فكأنه وجد من ذالك فقال يا رسول الله فأين أبوك؟ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم حيثما مررت بقبر مشرك فبشره بالنار
قال فأسلم الأعربي وقال لقد كلفني رسول الله صلى الله عليه وسلم تعبا ما مررت بقبر كافر الا بشرته بالنار

“Datang seorang arab pada Nabi ia berkata:
Ya Rosulallah sesungguhnya bapak ku suka silaturahim, suka anu..suka anu (menceritakan kebaikan nya), maka dimana kah dia?
Rosul menjawab:
di neraka.
Maka sepertinya org arab itu tepukul mendengarnya, lalu ia berkata:
Ya Rosulallah di mana bapakmu?
Rosulullah shallallahu alaihi wasallam berkata:
Jika engkau melewati kubur org musyrik maka beritakanlah ia dgn neraka.
Kemudian org arab itu masuk islam dan berkata:
Rosulullah telah mentaklifku, maka dengan susah-payah tdk lah aku melewati kubur kafir kecuali aku memberitakan nya dgn neraka.”

Dalam perbedaan teks ini menurut Imam Shuyuthy teks riwayat Sunan Ibnu Majah yang shahih, ini dikaranakan ada beberapa kelemahan dalam riwayat Muslim.

Kelemahan riwayat Muslim yang dijelasan oleh Syaikh al-Hafidz al-Imam Jalaluddin as-Shuyuthy yg dinukil dalam kitab Hasyiah Sunan Ibnu Majah: http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=54&ID=2895

1. Hamad dan Mu’ammar sama2 meriwayatkan hadits tsb dari Tsabit, tapi BEDA MATAN ?!

وإنما ذكرهاحماد بن مسلم عن ثابت وقد خالفه معمرعن ثابت فلم يذكره

Dalam hadits Muslim Hamad menyebutkan “Bapak ku dan bapakmu di neraka”. Tapi lafadz ini tidak disebutkan oleh Mu’ammar. Tapi Mu’ammar menyebutkan:

ولكن قالإذا مررت بقبر كافر فبشره بالنار ولا دلالة في هذا اللفظ على حال الوالد

Nabi bersabda (menjawab): “Jika engkau melintasi kuburan org kafir maka beritakanlah dgn neraka”.
Lafadz ini samasekali tidak menjelaskan keadaan Ayahanda Rosul.

2. Lafadz (Mu’ammar) ini lebih kukuh dibandingkan dgn lafadz Hamad.

وهو أثبت فإن معمرا أثبت من حمادفإن حمادا تكلم في حفظه ووقع في أحاديثه مناكير ولم يخرج له البخاري ولا خرج له مسلم في الأصول إلا من روايته عن ثابت وأمامعمرفلم يتكلم في حفظه ولا استنكر شيء من حديثه واتفق على التخريج له الشيخان فكان لفظه أثبت

Sesungguhnya Hamad banyak ulama yg mengatakan buruk hafalan nya (meski ini khilaf), dan banyak penolakan pada hadits2nya, bahkan Imam Bukhori tdk mengeluarkan hadits darinya, dan Imam Muslim tdk mengeluarkan hadits darinya dalam bab ushul kecuali yg diriwayatkan dari Tsabit.

Sedangkan Mu’ammar tdk ada ulama yg meragukan hafalan nya, dan samasekali tdk ada penolakan dlm hadits2nya, dan Syaikhoni Imam Bukhori dan Imam Muslim SEPAKAT mengeluarkan hadits darinya.

Maka jelas: LAFADZ MU’AMMAR LEBIH KUKUH.

3. Adanya hadits2 lain yg sama seperti lafadz Mu’ammar.

ثم وجدنا الحديث ورد من حديث سعد بن أبي وقاص بمثل لفظ معمرعن ثابت عن أنس أخرجه البزار والطبراني والبيهقي وكذا من حديث ابن عمررواه ابن ماجه فتعين الاعتماد على هذا اللفظ وتقديمه على غيره

Dan juga ada hadits yg diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqash yang sama seperti riwayat Mu’ammar dari Tsabit, yg di keluarkan oleh Imam Bazzar, Imam Thobroni dan Imam Baihaqi. Demikian juga hadits Ibnu Umar yg diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

Maka dari situ semua jelaslah yg harus DIPEGANG adalah lafadz ini (dari Mu’ammar) dan mendahulukannya dari yg lain.

KESIMPULAN:

فعلم أن رواية مسلم من تصرف الرواة بالمعنى على حسب فهمه

Maka dari sini juga diketahui bahwa hadits riwayat Muslim adalah dari tasharufi-ruwat (perobahan dari perawi) dgn makna atas pemahaman perawi (bukan asli dari Nabi).

Wallahu ‘Alam bishowab.

Ibnu Taimiyah (661 H – 728 H), adalah seorang ulama harran (Turki).
Ibnu Taimiyah hidup pada masa Khilafah ‘Abbasyiyyah yg berpusat di Baghdad Irak.
Ibnu Taimiyah seorang ulama yg penuh kontroversi, banyak para ulama yg menyatakan kesesatan hingga kekufuran Ibnu Taimiyah. Ini dikarnakan akidah tajsimnya karna memahami zohir ayat2 mutasyabihat, beri’tikad Allah bertempat dan bersemayam diatas Arasy, Allah bertempat diatas/langit, Allah berbicara dengan suara, memaknai makna nuzul dengan makna hakikinya, dan bahkan dihikayatkan pada suatu saat ketika sedang berbicara diatas mimbar Ibnu Taimiyah mengatakan: “Allah turun dari langit seperti aku turun dari mimbarku ini”, dan ia pun turun dari mimbarnya.

Atas akidahnya ini Ibnu Taimiyah diadili dan dipenjara atas rekomendasi fatwa dari para hakim ulama empat madzhab, yaitu:
1. Al-Qâdlî al-Mufassir Badruddin Muhammad ibn Ibrahim ibn Jama’ah asy-Syafi’i (w 733 H).
2. Al-Qâdlî Ibn Muhammad al-Hariri al-Anshari al-Hanafi.
3. Al-Qâdlî Muhammad ibn Abi Bakr al-Maliki.
4. Al-Qâdlî Ahmad ibn Umar al-Maqdisi al-Hanbali. Lihat peristiwa ini dalam kitab ‘Uyûn at-Tawârikh karya Imam al-Kurtubi, dalam kitab Najm al-Muhtadî Fî Rajm al-Mu’tadî karya Imam Ibn al-Mu’allim al-Qurasyi.

Ibnu Taimiyah yg merupakan rujukan utama wahabi diriwayatkan pernah bertaubat dan mengakui sebagai pengikut Madzhab Asy’ariyah.

Kenyaatan bertaubatnya Ibnu Taimiah dari akidah sesat ini telah dinyatakan dan disaksikan oleh seorang ulama yg sezaman dengan Ibnu Taimiyah yaitu Imam As-Syeikh Syihabuddin An-Nuwairy (wafat 733 H) dalam kitabnya “Nihayah Al-Arab Fi Funun Al-Adab” cetakan Dar Al-Kutub Al-Misriyyah juz 32/115-116.
Dan hal ini juga telah dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar Al-’Asqolany dalam kitabnya “Ad-Durar Al-Kaminah Fi ‘ayan Al-Miaah As-Saminah cetakan 1414 H Dar Al-Jiel juz 1/148 dan beliau tidak menafikan kesahihan riwayat ini. Berikut penjelasan Al-Hafidz Imam Ibnu Hajar al-’Asqolaniy:

وأما تقي الدين فإنه استمر في الجب بقلعة الجبل إلى أن وصل الأمير حسام الدين مهنا إلى الأبواب السلطانية في شهر ربيع الأول سنة سبع وسبعمائة ، فسأل السلطان في أمره وشفع فيه ، فأمر بإخراجه ، فأخرج في يوم الجمعة الثالث والعشرين من الشهر وأحضر إلى دار النيابة بقلعة الجبل ، وحصل بحث مع الفقهاء ، ثم اجتمع جماعة من أعيان العلماء ولم تحضره القضاة ، وذلك لمرض قاضي القضاة زين الدين المالكي ، ولم يحضر غيره من القضاة ، وحصل البحث ، وكتب خطه ووقع الإشهاد عليه وكتب بصورة المجلس مكتوب مضمونه : بسم الله الرحمن الرحيم شهد من يضع خطه آخره أنه لما عقد مجلس لتقي الدين أحمد بن تيمية الحراني الحنبلي بحضرة المقر الأشرف العالي المولوي الأميري الكبيري العالمي العادلي السيفي ملك الأمراء سلار الملكي الناصري نائب السلطنة المعظمة أسبغ الله ظله ، وحضر فيه جماعة من السادة العلماء الفضلاء أهل الفتيا بالديار المصرية بسبب ما نقل عنه ووجد بخطه الذي عرف به قبل ذلك من الأمور المتعلقة باعتقاده أن الله تعالى يتكلم بصوت ‎، وأن الاستواء على حقيقته ‎، وغير ذلك مما هو مخالف لأهل الحق ‎، انتهى المجلس بعد أن جرت فيه مباحث معه ليرجع عن اعتقاده في ذلك ‎، إلى أن قال بحضرة شهود : ( أنا أشعري ) ورفع كتاب الأشعرية على رأسه ، وأشهد عليه بما كتب خطا وصورته : (( الحمد لله ، الذي أعتقده أن القرآن معنى قائم بذات الله ، وهو صفة من صفات ذاته القديمة الأزلية ، وهو غير مخلوق ، وليس بحرف ولا صوت ، كتبه أحمد بن تيمية . والذي أعتقده من قوله : ( الرحمن على العرش استوى ) أنه على ما قاله الجماعة ، أنه ليس على حقيقته وظاهره ، ولا أعلم كنه المراد منه ، بل لا يعلم ذلك إلا الله تعالى ، كتبه أحمد بن تيمية . والقول في النزول كالقول في الاستواء ، أقول فيه ما أقول فيه ، ولا أعلم كنه المراد به بل لا يعلم ذلك إلا الله تعالى ، وليس على حقيقته وظاهره ، كتبه أحمد بن تيمية ، وذلك في يوم الأحد خامس عشرين شهر ربيع الأول سنة سبع وسبعمائة )) هذا صورة ما كتبه بخطه ، وأشهد عليه أيضا أنه تاب إلى الله تعالى مما ينافي هذا الاعتقاد في المسائل الأربع المذكور بخطه ، وتلفظ بالشهادتين المعظمتين ، وأشهد عليه بالطواعية والاختيار في ذلك كله بقلعة الجبل المحروسة من الديار المصرية حرسها الله تعالى بتاريخ يوم الأحد الخامس والعشرين من شهر ربيع الأول سنة سبع وسبعمائة ، وشهد عليه في هذا المحضر جماعة من الأعيان المقنتين والعدول ‎، وأفرج عنه واستقر بالقاهرة

Berikut terjemah point2 pentingnya dgn singkat:
*Ibnu Taimiyah dihadirkan di pengadilan dari penjara, hari jum’at 13 Robiul-awal, dgn dihadiri para ulama2 besar dan ahli fatwa.
*Terbukti dari tulisan2 Ibnu Taimiyah sebelumnya yg bertalian dgn akidah2nya, yakni Allah berbicara dgn suara dan makna istiwa adalah makna hakikinya dan yg lain2.
*Setelah dilakukan pembahasan bersama pemuka2 ulama dgn Ibnu Taimiyah maka Ibnu Taimiyah menarik akidah2nya, dan menyatakan dgn dihadiri saksi2 bahwa ia adalah Asy’ariyah dan meletakan kitab2 Asy’ariyah diatas kepalanya.
*Imam As-Syeikh Syihabuddin An-Nuwairy bersaksi bahwa Ibnu Taimiyah menyatakan dgn lisan dan tulisan bahwa Ibnu Taimiyah kembali pada akidah yang hak. Dan ini terjadi pada hari Ahad 15 Rabiul-awal 707 H.
Beliau juga bersaksi bahwa Ibnu Taimiyah bertaubat dari akidahnya tajsimnya yg lalu dan membaca Syahadatain, dgn ikhtiar sendiri tanpa paksaan. Dan ini disaksikan pembesar ulama2 negara Mesir yg tsiqah.

بسم الله الرحمن الرحيم

والعصر(1) إن الإنسان لفي خسر(2) إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر(3)

“Demi masa (1) Sesungguhnya manusia dalam kerugian (2) Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih, dan saling berwasiat dengan hak dan berwasiat dengan kesabaran (3)”.

Menurut Imam Abu Sholih yang meriwayatkan dari Mu’awiyah ra. makna al-’ashr adalah masa.

Di surah ini Allah swt bersumpah dengan masa. Masa hidup manusia di dunia (usia) telah Allah tentukan lamanya, ada yang diberi masa yang panjang, dan banyak pula yang diberi masa yang singkat.

Allah swt. berfirman:
“Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian”.

Manusia jadi merugi dalam masanya, karna tidak dapat memanfa’atkan dengan baik masa (usia) yang Allah berikan padanya. Dan tidak mengisinya dengan tha’at dan ibadah padaNya. Hingga ketika ajal menjemput jadilah ia orang yang sangat merugi.

Firman Allah selanjutnya:
“Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih, dan saling berwasiat dengan hak dan berwasiat dengan kesabaran”.

Di ayat ini Allah membuat pengecualian, yaitu orang-orang yang beriman pada Allah dan beramal sholih, dan saling berwasiat dengan hak dan berwasiat dengan kesabaran. Mereka tidak merugi dengan masanya, tapi bahkan akan mendapat keberuntungan berupa pahala yang besar dari Allah swt.

Wallahu ‘alam bishowab.

Bismillahirrohmanirrohim.

Kehidupan setelah kematian selama ini hanya dianggap sebagai doktrin agama. Namun kini ilmu pengetahuan menjelaskan kebenaran ranah agama tersebut. Sebuah penelitian ilmiah terbaru menunjukkan kematian bukanlah pemberhentian terakhir. Observasi ilmiah yang dilakukan menyimpulkan kehidupan dan kematian ternyata berkorespondensi dengan “alam lain” (multiverse).

Paparan ilmiah tersebut dijelaskan oleh teori ilmiah bernama biosentrisme. Menurut teori ini, kendati tubuh dirancang untuk hancur sendiri, namun ada sebuah ‘energi’ yang bekerja dalam otak, yaitu ‘perasaan hidup’ mengenai ‘siapakah saya’.
“Energi itu tidak musnah ketika manusia mati,” tulis ilmuwan terkemuka dunia dan pengarang buku Biocentrism, Robert Lanza, Jumat, 25 Januari 2013.

Teori sains tentang energi memang menjelaskan hukum kekekalan energi.
Menurut Lanza, energi ‘perasaan hidup’ itu tak tercipta, tapi tak juga bisa musnah. Lantas, apakah energi ini berpindah dari satu dunia ke dunia lain?

Sebuah eksperimen yang belum lama ini dipublikasikan dalam jurnal Science memperlihatkan para ilmuwan bisa mengubah sesuatu yang sudah terjadi pada masa lalu. Lewat percobaan yang menggunakan beam splitter (perangkat optik yang membelah berkas cahaya), partikel-partikel energi diputuskan keberadaannya. Ternyata, dari situ dapat ditentukan apa yang berlaku pada partikel ini pada masa lalu sehingga seseorang dapat menyelami pengalaman di masa lalu.
Kaitan antara pengalaman dan semesta ini melampaui gagasan-gagasan manusia mengenai ruang dan waktu. Tapi biosentrisme sendiri menyatakan, ruang dan waktu bukan obyek sulit seperti yang dibayangkan.
Teori ini menganalogikan waktu sebagai udara yang sia-sia untuk ditangkap manusia karena memang tak pernah bisa diraih. “Anda tak bisa melihat apa pun melalui tulang tengkorak yang menyelimuti otak Anda,” kata Robert Lanza. “Apa yang Anda lihat dan rasakan sekarang adalah putaran informasi pada otak Anda.”
Menurut biosentrisme, ruang dan waktu semata-mata adalah alat penghimpun informasi secara bersamaan. Karena itulah, dalam dunia yang tidak ada ruang dan waktu, tak ada istilah kematian.

Agama islam mengajarkan kehidupan dan kematian adalah ujian bagi umat manusia. Allah swt. berfirman:

الذي خلق الموت والحياة ليبلوكم أيكم أحسن عملا‎ ‎‎وه‎‎وا‎ل‎ع‎زي‎ز‎ ا‎ل‎غ‎فو‎رََََُُُُِْْ

“Allah, Dzat yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian semua, siapakah diantara kalian yang berbuat kebajikan, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
(al-Mulk 2).

Kehidupan umat manusia didunia sejatinya adalah satu perjalanan, dan kematian merupakan satu pintu menuju kehidupan selanjutnya.

الموت باب وكل الناس داخله ‎ ياليت شعري بعد الموت ما الدارالدار دار نعيم ان عملت بما‎يرضي الاله وان فرطت فالنار

“Kematian adalah pintu, semua manusia akan memasukinya..
Duhai, desa manakah yang kutuju setelah maut??
Desa kenikmatan, jika aku beramal dalam keridhoan Tuhan..
Tapi jika aku ceroboh dalam beramal maka neraka lah yang tertuju.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 880 pengikut lainnya.