Banyak saudara seiman kita dari golongan wahabi yg mengatakan bahwa Ayah-Bunda Rosulullah berada di neraka, bahkan mereka seolah menjadikan ini “satu akidah” yang wajib di imani.

Keyakinan mereka berlandaskan pada beberapa hadits, tapi hadits yg paling kuat untuk dijadikan dalil (bagi mereka) adalah hadits yg diriwayatkan oleh Imam Muslim.

203حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا عفان حدثنا حماد بن سلمة عن ثابت عن أنس أن رجلا قال يا رسول الله أين أبي قال في النار فلما قفى دعاه فقالإن أبي وأباك في النار

“Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya:
Ya Rosulallah, dimanakah keberadaan bapak ku?
Rosulullah menjawab: “di neraka”.
Ketika laki-laki itu pergi Rosul memanggilnya dan berkata: “Bapak ku dan bapak mu di neraka”.

Tapi apakah hadits ini benar2 shahih??

Sebenarnya hadits ini tidak sendiri, masih ada beberapa perawi lain yg meriwayatkan hadits ini dgn matan/teks yg AGAK BERBEDA:

Hadits Ibnu Majah 1573
Hadits ini sama dgn hadits sohih Muslim hanya beda perawi. Dan pada teksnya terdapat perbedaan yg menonjol.
Dalam hadits ini tdk ada kalimat “Sesungguhnya bapak ku dan bapak mu dineraka”.

حدثنا محمد بن إسماعيل بن البختري الواسطي حدثنا يزيد بن هارون عن إبراهيم بن سعد الزهري عن سالم عن أبيه قال
جاء أعرابي الى النبي صلى الله عليه وسل فقال يا رسول الله إن أبي كان يصل الرحم وكان وكان فأين هو؟ قال في النار قال فكأنه وجد من ذالك فقال يا رسول الله فأين أبوك؟ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم حيثما مررت بقبر مشرك فبشره بالنار
قال فأسلم الأعربي وقال لقد كلفني رسول الله صلى الله عليه وسلم تعبا ما مررت بقبر كافر الا بشرته بالنار

“Datang seorang arab pada Nabi ia berkata:
Ya Rosulallah sesungguhnya bapak ku suka silaturahim, suka anu..suka anu (menceritakan kebaikan nya), maka dimana kah dia?
Rosul menjawab:
di neraka.
Maka sepertinya org arab itu tepukul mendengarnya, lalu ia berkata:
Ya Rosulallah di mana bapakmu?
Rosulullah shallallahu alaihi wasallam berkata:
Jika engkau melewati kubur org musyrik maka beritakanlah ia dgn neraka.
Kemudian org arab itu masuk islam dan berkata:
Rosulullah telah mentaklifku, maka dengan susah-payah tdk lah aku melewati kubur kafir kecuali aku memberitakan nya dgn neraka.”

Dalam perbedaan teks ini menurut Imam Shuyuthy teks riwayat Sunan Ibnu Majah yang shahih, ini dikaranakan ada beberapa kelemahan dalam riwayat Muslim.

Kelemahan riwayat Muslim yang dijelasan oleh Syaikh al-Hafidz al-Imam Jalaluddin as-Shuyuthy yg dinukil dalam kitab Hasyiah Sunan Ibnu Majah: http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=54&ID=2895

1. Hamad dan Mu’ammar sama2 meriwayatkan hadits tsb dari Tsabit, tapi BEDA MATAN ?!

وإنما ذكرهاحماد بن مسلم عن ثابت وقد خالفه معمرعن ثابت فلم يذكره

Dalam hadits Muslim Hamad menyebutkan “Bapak ku dan bapakmu di neraka”. Tapi lafadz ini tidak disebutkan oleh Mu’ammar. Tapi Mu’ammar menyebutkan:

ولكن قالإذا مررت بقبر كافر فبشره بالنار ولا دلالة في هذا اللفظ على حال الوالد

Nabi bersabda (menjawab): “Jika engkau melintasi kuburan org kafir maka beritakanlah dgn neraka”.
Lafadz ini samasekali tidak menjelaskan keadaan Ayahanda Rosul.

2. Lafadz (Mu’ammar) ini lebih kukuh dibandingkan dgn lafadz Hamad.

وهو أثبت فإن معمرا أثبت من حمادفإن حمادا تكلم في حفظه ووقع في أحاديثه مناكير ولم يخرج له البخاري ولا خرج له مسلم في الأصول إلا من روايته عن ثابت وأمامعمرفلم يتكلم في حفظه ولا استنكر شيء من حديثه واتفق على التخريج له الشيخان فكان لفظه أثبت

Sesungguhnya Hamad banyak ulama yg mengatakan buruk hafalan nya (meski ini khilaf), dan banyak penolakan pada hadits2nya, bahkan Imam Bukhori tdk mengeluarkan hadits darinya, dan Imam Muslim tdk mengeluarkan hadits darinya dalam bab ushul kecuali yg diriwayatkan dari Tsabit.

Sedangkan Mu’ammar tdk ada ulama yg meragukan hafalan nya, dan samasekali tdk ada penolakan dlm hadits2nya, dan Syaikhoni Imam Bukhori dan Imam Muslim SEPAKAT mengeluarkan hadits darinya.

Maka jelas: LAFADZ MU’AMMAR LEBIH KUKUH.

3. Adanya hadits2 lain yg sama seperti lafadz Mu’ammar.

ثم وجدنا الحديث ورد من حديث سعد بن أبي وقاص بمثل لفظ معمرعن ثابت عن أنس أخرجه البزار والطبراني والبيهقي وكذا من حديث ابن عمررواه ابن ماجه فتعين الاعتماد على هذا اللفظ وتقديمه على غيره

Dan juga ada hadits yg diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqash yang sama seperti riwayat Mu’ammar dari Tsabit, yg di keluarkan oleh Imam Bazzar, Imam Thobroni dan Imam Baihaqi. Demikian juga hadits Ibnu Umar yg diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

Maka dari situ semua jelaslah yg harus DIPEGANG adalah lafadz ini (dari Mu’ammar) dan mendahulukannya dari yg lain.

KESIMPULAN:

فعلم أن رواية مسلم من تصرف الرواة بالمعنى على حسب فهمه

Maka dari sini juga diketahui bahwa hadits riwayat Muslim adalah dari tasharufi-ruwat (perobahan dari perawi) dgn makna atas pemahaman perawi (bukan asli dari Nabi).

Wallahu ‘Alam bishowab.