Banyak nash Al-quran dan Hadits bermakna umum yg ditakhsis oleh hadits lain, seperti hadits “KULLU BID’ATIN DOLALAH” yg ditakhshish oleh hadits “MAN SANNA FIL-ISLAM”.

Pada kali ini saya tidak akan menjelaskan tentang bid’ah, saya mencoba menguraikan tentang TAKHSIS dgn singkat disertai contoh alakadarnya.

Takhsis/Pengecualian Hukum

Makna Takhsis:
والتخصيص : بيان المراد باللفظ . أو بيان أن بعض مدلول اللفظ غير مراد بالحكم ، وهو جائز بدليل: خالق كل شيء [ الزمر : 62 ] ، تدمر كل شيء [الأحقاف : 25 ]

Takhsish: adalah menjelaskan makna yg dikehendaki oleh lafadz (umum).
Atau: menjelaskan bahwa sesungguhnya sebagian yg tertuju oleh lafadz tidak dikehendaki hukum.

Dalil takhsis, firman Allah:
خالق كل شيء [ الزمر : 62 ]
“Allah Yang Menciptakan segala sesuatu”
Dari ayat ini ditakhsis: Sifat2 Allah dan Al-Quran, karna sifat2 Allah bukan makhluk, Al-Quran juga bukan makhluk Allah tapi Kalamullah.

Dalil takhsis yg lain yaitu firman Allah:
تدمر كل شيء ]الأحقاف[: 25
“Malaikat menghancurkan segala sesuatu (kaum Nabi Hud as)”.

Dari ayat ini ditakhsis perkara yg tidak turut dihancurkan, seperti bumi, langit dll.

Dalam kajian ushul fiqih MUKHASHISHAT (alat2 pentakhsish) ada sembilan.

1. Al-Hiss (panca indra), seperti ditakhsisnya bumi dan langit pada ayat: تدمر كل شيء
bumi dan langit ditakhsis (tidak turut dihancurkan) karna secara hissi terlihat.

2. Akal, akal digunakan untuk mentakhsis perkara yg tdk dapat difahami dari ke-umuman lafadz.
Seperti pada ayat:
ولله على الناس حج البيت [آل عمران 97 ]
“Diwajibkan bagi manusia berhaji ke Baitullah”

Keumuman lafadzالناس menuduhkan seluruh manusia tertuju oleh hukum kewajiban haji ke Baitullah, tapi oleh akal ditakhsis anak kecil dan orang gila tidak diwajibkan, karna bukan mukallaf.

3. Ijma’ qoth’iyyah.
Seperti, dari dalil2 yg ada dimaklumi kewajiban harus jelasnya nilai harga segala sesuatu baik jual-beli atau sewa. Tapi ijma’ manusia mentakhsis harga/ongkos sewa naik perahu dan masuk wc (zaman dahulu), karna pada masa itu ongkos naik perahu dan masuk wc tidak dipatok.

4. Nash, baik nash qu’ran ditakhsis oleh nash hadits, atau hadits oleh hadits lain.
Seperti ditakhsisnya ke-umuman ayat:
والسارق والسارقة [المائدة : 38 ]
“Pencuri harus dihukum potong tangan”.
Keumuman ayat ini menjelaskan setiap pencuri diberi hukum potong tangan, baik pencurian dlm jumlah besar atau kecil.
Tapi ayat ini ditakhsis oleh nash hadits:
لا قطع إلا في ربع دينار
“Tiada hukum potong tangan kecuali dalam seperempat dinar”.
Hadits ini mentakhsis pencurian dibawah seperempat dinar dari hukum potong tangan.

5. Mafhum dari nash, karna mafhum juga merupakan dalil sama seperti nash.
Seperti ditakhsisnya ke-umuman hadits:
في أربعين شاة شاة
“Dalam empat puluh ekor kambing wajib dikeluarkan (zakat) seekor kambing”.
Hadits ini ditakhsis oleh mafhum hadits:
في سائمة الغنم الزكاة
“Dalam kambing yg merumput (digembalakan) diwajibkan zakat”.
Mafhum dari hadist ini: “kambing yg tdk digembalakan tidak wajib zakat”, mafhum ini mentakhsis (mengeluarkan) kewajiban zakat dari 40 ekor kambing yg tidak digembalakan.

6. Pekerjaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Seperti ditakhsisnya ayat:
ولا تقربوهن حتى يطهرن [البقرة : 222 ]
“Janganlah kalian mendekati wanita yg sedang haid sehingga mereka suci”.
Ayat ini ditakhsis dgn pekerjaan Nabi ber-mubasyarah dgn A’isyah ra yg sdg haid pada selain farj:
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ، يأمرني فأتزر ، ثم يباشرني وأنا حائض
“Rosulullah shallallahu alaihi wasallam memerintah aku, maka aku memakai sarung, kemudian beliau menyentuhku, dan aku sedang haid”.
Keumuman ayat diatas menjelaskan tidak boleh ‘bermain’ dgn wanita haid meski sekedar memeluk atau mencium. Tapi ayat itu ditakhsis (dijelaskan makna yg dikehendakinya) oleh pekerjaan Nabi, bahwa yg dilarang adalah berhubungan intim dgn wanita haid, sedangkan selain itu dibolehkan.

7. Taqrir Nabi shallallahu alaihi wasallam pada yang menyelisihi dalil umum, disertai kuasanya Nabi untuk mencegahnya. Karna itu merupakan shorih idzin dari Nabi, karna dengan ke-makshumannya tidak mungkin Nabi membiarkannya (jika itu dilarang).

8. Ucapan Sahabat jika dapat dijadikan hujjah seperti qiyas, bahkan lebih utama.

9. Qiyas nash khos didahulukan atas keumuman nash yg lain.
Seperti hukum haram bir/wiski (minuman yg memabukan) diqiyaskan pada khamr karna sama2 memabukan, ini merupakan qiyas pada nash khusus yg menyatakan haramnya khamr.
Qiyash nash khusus ini mentakhsis keumuman ayat:
قل لا أجد في ما أوحي إلي محرما على طاعم يطعمه إلا أن يكون ميتة أو دما مسفوحا أو لحم خنزير [الأنعام : 145 ]
“Katakan (wahai Muhamad), aku tidak menemukan dari yg diwahyukan padaku, yg diharamkan pada org yg memakan yg memakannya kecuali jika itu bangkai, atau darah yg mengalir, atau daging babi”.

*Syarah Mukhtashar Ar-Raudhah (Syaikh Najmuddin Abu-Rabi’ Salim bin Sa’id At-Thusy).

Kesimpulan:
Bid’ah yang sesat dalam agama adalah perkara baru yang tidak ada dalilnya dalam agama. Sedangkan perkara baru yg ada dalilnya maka tidak termasuk bid’ah yg sesat.